Bali – Saat ini, untuk mengetahui seperti apa kondisi hutan disuatu daerah, sebenarnya kita tidak lagi perlu turun langsung atau mengecek lapangan. Karena dengan memanfaatkan platform Mapbiomas Indonesia http://platform-map.nusantara.earth/ kita dapat mengetahui seperti apa lahan di sana beralih fungsi dalam rentang waktu tahun 2000 – 2022.

Itulah sekilas manfaat dari peta Mapbiomas Indonesia. Kita dapat melihat dinamika lahan beralih fungsi dan tutupan berubah di Indonesia. Dari Aceh hingga Papua dengan mendeteksi mulai dari hutan alam, mangrove, hutan tanaman, tumbuhan alami non hutan, sawit, pertanian lainnya, tambang, non vegetasi lainnya, tambak, tubuh air dan kelas terbaru di Koleksi 2.0 ini yakni sawah.

Penggunaan platform ini juga terbuka untuk siapapun dan tidak dipungut biaya sepeserpun.

MapBiomas pertama kali dikembangkan di Brasil pada tahun 2015. Inisiatif ini kemudian disebarluaskan ke negara-negara lainnya termasuk Indonesia melalui Yayasan Auriga Nusantara.

Pertukaran pengetahuan antara Indonesia dengan Brasil dimulai sejak 2017, kemudian diimplementasikan di Indonesia tahun 2019. Barulah pada tahun 2021, Mapbiomas Koleksi 1.0 dirilis yang terdiri dari 10 kelas.

Pengembangan peta Mapbiomas Indonesia juga bertujuan membangun kapasitas lokal. Maka itu sifatnya kolaborasi bersama lembaga swadaya masyarakat yang fokus di isu lingkungan diantaranya adalah HAkA (Aceh), HaKI (Sumatera Selatan), GENESIS (Bengkulu), SAMPAN (Kalimatan Barat), SAVE OUR BORNEO (Kalimantan Tengah), GREEN OF BORNEO (Kalimantan Utara), Auriga Nusantara (Jawa), KOMIU (Sulawesi Tengah), MNUKWAR (Papua Barat) dan JERAT (Papua). Yang juga didukung oleh Woods & Wayside International sebagai penasihat teknis.

Bertempat di Pandu Ballroom, Hotel Mercure, Sanur, Bali, Mapbiomas Indonesia Koleksi 2.0 diluncurkan pada 23 Oktober 2023 kemarin. Di Koleksi 2.0 ini, Mapbiomas Indonesia melakukan pembaruan periode tahun dari 2000 hingga 2022 dan memetakan satu kelas baru yaitu sawah sehingga menjadi 11 kelas.

“Berdasarkan data pada platform terlihat bahwa 56% wilayah Indonesia masih berupa hutan. Namun dari data ini juga dapat terlihat bahwa wilayah Indonesia sudah banyak perubahan yang signifikan,” ungkap Timer Manurung, Ketua Auriga Nusantara, insiator Mapbiomas Indonesia ketika acara peluncuran.

“Data Mapbiomas Indonesia Koleksi 2.0 menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2000-2022 sebanyak 9 juta hektare vegetasi alami hilang. Pada periode tersebut juga ternyata perluasan kebun sawit menjadi ekspansi terbesar dengan penambahan lahan luas 10,52 juta hektare dan secara persentase terbesar diduduki oleh lubang tambang yakni sebesar 334%,” tambah dia.

Pembaruan lainnya di Koleksi 2.0 adalah keberadaan aspek proses uji akurasi pada peta Mapbiomas Indonesia. Yang prosesnya dilakukan 10 pakar kredibel dan 14 tim interpreter dari 10 universitas di Indonesia.

Sampel ini diuji oleh 10 perguruan tinggi dari Aceh hingga Papua meliputi Universitas Syiah Kuala, Universitas Bengkulu, Universitas Lampung di Sumatera, Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, Universitas Mulawarman di Kalimantan, Universitas Tadulako di Sulawesi Tengah, dan Univeristas Papua. Sementara di Jawa berkolaborasi dengan Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor dan Universitas Gajah Mada.

“Dalam proses uji akurasi di Koleksi 2.0 ini terdapat 12.957 poin sampel independen yang digunakan sebagai data referensi. Dari proses validasi dan perhitungan nilai akurasi, nilai akurasi sebesar 75%,” ungkap Prof. Projo Danoedoro, Ketua Uji Akurasi Mapbiomas Indonesia Koleksi 2.0 yang juga merupakan pakar penginderaan jauh dari Universitas Gajah Mada.

Selain itu, juga terdapat penambahan layer sebagai batas penyajian informasi administrasi dari level nasional hingga desa. Kemudian tematik penataan ruang seperti kawasan hutan dan kawasan konservasi. Dilanjutkan tematik perizinan komoditas berbasis lahan dan juga social forestry.

“Selain bermanfaat sebagai referensi pemantauan dinamika dan tutupan lahan, peta Mapbiomas Indonesia juga dapat digunakan sebagai data untuk kampanye hingga advokasi lingkungan,” tutur Farwiza Farhan, pendiri sekaligus Ketua HAkA, organisasi masyarakat sipil yang mempunyai fokus aktivitas pada konservasi di area Kawasan Leuser, Aceh.

“HAkA memanfaatkan Mapbiomas untuk kampanye dan advokasinya. Sebagai contoh 13 tahun lalu terdapat perusahaan yang melakukan land clearing tanpa izin di daerah hija. Namun tidak dapat ditindak karena kepolisian menganggap bukan tindakan kejahatan karena perusahaan tersebut sedang mengurus izin. Namun izin yang diajukan berbeda dengan lahan yang dimaksud, akhirnya digugat,” tegas Farwiza.

Ia menambahkan bahwa di tengah proses, lahan yang dimaksud terbakar seluas 1.000 hektar. Pada tahun 2013, untuk pertama kalinya negara mengatakan bahwa perusahaan tersebut harus bertanggung jawab untuk restorasi atas rusaknya hutan. Semua itu berkat peta Mapbiomas yang menyediakan data lahan tersebut. Artinya peta dan data adalah kekuatan. Tanpa informasi yang dihasilkan, maka kita akan terus berasumsi di lapangan.

Tasso Azevedo, Founder dan General Coordinator MapBiomas juga menguatkan pernyataan bahwa peta adalah kekuatan.

“Dengan Mapbiomas, kita dapat melihat deforestasi secara detail. Apa yang terjadi sebelum dan sesudahnya. Termasuk informasi tanggalnya. Di Brasil, di negara awal Mapbiomas lahir dan dikembangkan, sejak tahun 2019, data Mapbiomas Brasil kerap dijadikan dasar untuk peringatan yang valid dan bahan pelaporan,” ungkap Tasso.

Sejak tahun 2019 terdapat 346.578 peringatan yang valid dan telah dilaporkan, ada sebanyak 7.657.119 hektar lahan yang telah dilaporkan dan kurang dari 200 deforestasi per hari.

Selanjutnya akan ada Mapbiomas Fire yang menyajikan data kebakaran hutan secara bulanan dan tahunan. Kemudian Mapbiomas Alerta yang berfungsi sebagai early warning system deforestasi di Indonesia.

Sejalan dengan itu, perbaikan akurasi peta Mapbiomas di Indonesia terus ditingkatkan agar petanya dapat menjadi rujukan pengambil keputusan atau perencanaan pembangunan. Termasuk menjalin kolaborasi dengan lingkup yang lebih luas dan besar agar sejalan dengan misi Mapbiomas yakni peningkatan kapasitas lokal.