Tutupan Hutan Lindung Bukit Sanggul

Pada 1 Maret 2024, Genesis telah melakukan pemetaan tutupan lahan kawasan Hutan Lindung (HL) Bukit Sanggul seluas 74.152,51 hektar. Tutupan lahan diklasifikasikan menjadi 6 kelas, yaitu kelas Hutan Lahan Kering primer, Hutan Lahan Kering Sekunder, Semak Belukar, Pertanian Lahan Kering Bercampur Semak, Lahan Terbuka dan Tubuh Air.

Hasil tutupan lahan HL Bukit Sanggul yang Genesis lakukan menunjukan, sebesar 85,5% atau 63.426,69 hektar masih berupa Hutan Alami, sedangkan 14,4% atau 10.668,36 hektar telah dirambah menjadi lahan pertanian, semak belukar dan lahan terbuka, dan sebesar 0,1% atau 57,45 hektarnya tubuh air berupa sungai. Secara rinci tutupan lahan tersebut terlihat sebagai berikut:

No Penutupan Lahan Luas (Ha) Persentase (%)
1 Hutan Lahan Kering Primer 59.203,07 79,8%
2 Hutan Lahan kering Sekunder 4.223,62 5,7%
3 Semak Belukar 864,82 1,2%
4 Pertanian Lahan Kering Bercampur Semak 9.491,81 12,8%
5 Lahan Terbuka 311,73 0,4%
6 Tubuh Air 57,45 0,1%
Total 74.152,51 100%

Tabel 1 : Tutupan Lahan HL Bukit Sanggul

HL Bukit Sanggul saat ini telah dibebani oleh Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Energi Swa Dinamika Muda (PT ESDM). Izin pertambangan ini dikeluarkan oleh Bupati Kabupaten Seluma dengan nomor I.302.ESDM TAHUN 2017 memiliki luasan 30.010 hektar. Pertambangan dengan komoditi emas ini, memiliki masa perizinan dimulai dari 15 Agustus 2017 sampai 6 Maret 2025 dan telah memegang izin ekplorasi.

Berdasarkan hasil penutupan lahan yang Genesis lakukan menunjukan, sebesar 29.414,52 hektar atau 98,9% area konsesi PT ESDM yang berada pada kawasan HL Bukit Sanggul masih berupa tutupan hutan alami, sedangkan 317,64 hektar atau 1,1% telah dirambah menjadi lahan pertanian, semak belukar dan lahan terbuka. Secara rinci tutupan lahan tersebut terlihat sebagai berikut:

No Penutupan Lahan Luas (ha) Persentase (%)
1 Hutan Lahan Kering Primer 29317,55 98,6%
2 Hutan Lahan kering Sekunder 96,97 0,3%
3 Semak Belukar 31,57 0,1%
4 Pertanian Lahan Kering Bercampur Semak 281,56 0,9%
5 Lahan Terbuka 4,51 0,01%
Total 29.732,16 100%

Tabel 2 : Tutupan Lahan HL Bukit Sanggul pada konsesi PT Energi Swa Dinamika Muda

 

Dampak Yang Akan Timbul Jika Hutan Lindung Bukit Sanggul Dirusak

Hutan dan sungai merupakan dua produk alam yang sangat penting untuk menunjang keberlangsungan hidup. Hutan lindung mempunyai fungsi sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah. Semua yang berada di dalam hutan bisa dimanfaatkan seperti kayu, buah, dan beberapa jenis sayuran juga berasal dari dalam hutan. Begitu juga dengan sungai yang merupakan sumber daya alam penting bagi kehidupan warga yang tinggal disekitar sungai, misalnya untuk mengairi sawah, sumber air minum dan untuk berbagai keperluan lainnya.

Hutan lindung dapat dikatakan rusak apabila adanya perubahan fisik pada hutan sehingga hutan tidak dapat berfungsi semestinya. Hutan yang rusak tidak dapat dimanfaatkan untuk menunjang kelangsungan hidup bagi masyarakat dan akibat hutan yang rusak berpengaruh juga pada lingkungan hidup sekitarnya. Lingkungan hidup yang dimaksud adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan mahluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya. Perlu diketahui sebelumnya, sungai-sungai yang mengalir bersumber dari dalam hutan. Jadi apabila hutannya terjaga dengan baik, maka sungainya pun akan baik. Tapi jika hutannya sudah rusak, maka sungainya juga akan ikut rusak.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu dari tahun 2020 sampai 2022, sejumlah deretan bencana telah banyak trerjadi di Kabupaten Seluma. Diantaranya banjir, tanah longsor, angin topan, gempa bumi, dan abrasi. Yang menjadi perhatian adalah dalam periode tersebut, sebanyak 19 desa pernah terendam banjir dan 9 diantaranya diterjang banjir bandang. Mayoritas desa yang terkena banjir adalah desa yang berada disekitaran aliran sungai seperti Desa Air Keruh di Kecamatan Ulu Talo, Desa Lubuk Gio, Desa Muara Danau, Desa Kembang Sri dan Desa Napal Melintang di Kecamtan Talo.

Perlu diketahui juga, sebanyak hampir 20 ribu kawasan HL Bukit Sanggul sudah di revisi statusnya menjadi Hutan Produksi dengan motivasi peningkatan iklim investasi. Dan di area yang direvisi sudah dibebani izin perusahaan tambang emas milik PT Energi Swa Dinamika Muda (PT ESDM), yang mana PT ESDM ini sudah sampai ditahap turun kelapangan untuk mengambil sample, pemetaan topografi, serta pengambilan poto udara.

Dengan berubahnya sebagian kawasan hutan lindung menjadi hutan produksi, memberikan karpet merah kepada pihak perusahaan untuk menambang dengan model pertambang terbuka (open pit). Sedangkan apabila pertambangan terbuka ini dilakukan, maka pintu kerusakan lingkungan juga akan terbuka semakin lebar. Sebut saja penebangan secara besar-besaran atau hilangnya vegetasi dari HL Bukit Sanggul, yang mana pohon sendiri memberikan banyak sekali manfaat seperti menyerap karbon, menghasilkan oksigen, menyimpan cadangan air hujan, dan masih banyak lagi. Dampak lainnya lagi adalah perubahan topografi dan tercemarnya air sungai.

Belum beroperasinya perusahaan tambang di HL Bukit Sanggul saja sudah banyak sekali bencana alam yang terjadi, bagaimana nanti jika memang perusahaan tambang itu akan beroperasi. Maka akan semakin memperparah bencana yang ada dan bisa mengundang bencana-bencana yang lain.

Ancaman yang jelas di depan mata adalah sawah warga yang berada di 6 kecamatan, yakni Kecamatan Ulu Talo, Talo, Ilir Talo, Talo Kecil, Semidang Alas, dan Semidang Alas Maras yang memiliki total luas kurang lebih 2.378 hektar, akan berada dalam ancaman gagal panen apabila menggunakan air sungai yang telah tercemar zat berbahaya akibat aktivitas pertambangan. Karena sampai saat ini, sawah warga 6 kecamatan tersebut masih sangat bergantung pada aliran irigasi Sungai Air Talo Besar, Sungai Air Alas, Sungai Air Alas Tengah, dan Sungai Air Alas Kanan yang bersumber dari HL Bukit Sanggul yang wilayahnya masuk dalam revisi.

Selain itu, hasil kajian Genesis dengan menggunakan data ketinggian dan kelerengan Badan Informasi Geospasial (BIG) Indonesia menemukan, area yang akan diturunkan fungsinya memiliki ketinggian wilayah 200-1800 mdpl dengan tingkat kelerengan 25% (curam) hingga 45% (sangat curam). Kondisi ini menjadikan area ini rentan akan bencana longsor dan gerakan tanah.